GenBI Grow Dorong Kemandirian Pangan dan Literasi Kebanksentralan Masyarakat Kolaka

Published by
September 29, 2026 00:05

KOLAKA – Upaya memperkuat kemandirian pangan sekaligus meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan dilakukan melalui kegiatan GENBI GROW (GenBI Resilience Organic Way) di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Kegiatan kolaborasi literasi kemandirian dan ketahanan pangan tersebut digelar selama dua hari, Sabtu-Minggu, 26-27 September 2026, melibatkan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Kolaka, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Kolaka, serta GenBI Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka.

Kegiatan ini dirancang untuk memberikan edukasi sekaligus aksi nyata kepada masyarakat dalam membangun ketahanan pangan yang dimulai dari lingkungan rumah tangga.

Salah satu materi yang diberikan yakni pemanfaatan pekarangan rumah melalui program Pekarangan Pangan Lestari (P2L). Peserta mendapatkan edukasi dan praktik budidaya tanaman hortikultura seperti cabai, tomat, bayam, dan kangkung.

Langkah tersebut dinilai relevan di tengah tantangan fluktuasi harga pangan serta kondisi cuaca dan iklim yang semakin tidak menentu.

Asisten Analis Seksi Kehumasan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Tenggara, Muhammad Ashar, mengatakan penguatan ketahanan pangan tidak hanya membutuhkan kebijakan, tetapi juga pengetahuan dan keterlibatan masyarakat secara langsung.

“Ketahanan pangan ini kita dorong mulai dari rumah tangga. Masyarakat diberikan literasi bagaimana memanfaatkan pekarangan menjadi lahan produktif, sehingga kebutuhan pangan tertentu bisa dipenuhi secara mandiri,” kata Muhammad Ashar.

Selain budidaya tanaman, peserta juga mendapatkan edukasi mengenai pengelolaan limbah organik rumah tangga melalui pembuatan eco-enzyme.

Praktik tersebut diperkenalkan sebagai salah satu cara sederhana memanfaatkan limbah organik sekaligus mendukung kegiatan budidaya tanaman.

Materi diberikan dengan dukungan penyuluh lapangan dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Kolaka. Peserta juga mendapatkan bibit cabai sebagai langkah konkret untuk melanjutkan praktik yang telah diperoleh selama kegiatan.

Menurut Ashar, pembagian bibit bukan sekadar bantuan, tetapi diharapkan menjadi awal keberlanjutan program di tingkat rumah tangga.

“Kita tidak ingin kegiatan berhenti pada sosialisasi. Karena itu, peserta juga diberikan bibit cabai agar pengetahuan yang diperoleh dapat langsung dipraktikkan dan dikembangkan di rumah masing-masing,” ujarnya.

Di sisi lain, GENBI GROW juga menjadi ruang untuk memperkuat literasi kebanksentralan melalui kolaborasi Bank Indonesia, Universitas Sembilanbelas November Kolaka, GenBI, dan organisasi perangkat daerah Pemerintah Kabupaten Kolaka.

Peserta mendapatkan edukasi mengenai Cinta, Bangga, Paham Rupiah (CBP Rupiah), sistem pembayaran digital melalui QRIS, serta pentingnya pelindungan konsumen.

Lebih dari 200 peserta yang terdiri atas pelajar, mahasiswa, serta ibu-ibu PKK se-Kabupaten Kolaka mengikuti rangkaian kegiatan tersebut.

Ashar mengatakan keterlibatan berbagai kelompok masyarakat menjadi bagian penting agar literasi yang disampaikan dapat menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat.

“Literasi yang kita bangun bukan hanya terkait pangan dan lingkungan, tetapi juga literasi kebanksentralan. Harapannya, masyarakat semakin memahami Rupiah, menggunakan sistem pembayaran digital dengan bijak, serta mengetahui hak dan perlindungan sebagai konsumen,” jelasnya.

Melalui GENBI GROW, kolaborasi antara dunia pendidikan, pemerintah daerah, komunitas mahasiswa, dan Bank Indonesia diarahkan tidak hanya menghasilkan kegiatan edukatif, tetapi juga mendorong perubahan kebiasaan masyarakat menuju kemandirian pangan, pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, dan pemahaman ekonomi yang lebih baik.

Program ini sekaligus menunjukkan bahwa penguatan ketahanan pangan dan literasi masyarakat dapat dimulai dari langkah sederhana di lingkungan sekitar.