Ekonomi Sultra Diprakirakan Makin Menguat, Pertanian Jadi Penopang Utama

KENDARI – Perekonomian Sulawesi Tenggara diprakirakan terus menguat pada Triwulan III 2026. Penguatan ekonomi terutama ditopang sektor pertanian seiring membaiknya produksi padi dan meningkatnya Nilai Tukar Petani (NTP).
Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tenggara menyebut penguatan sektor pertanian tersebut berpotensi mengimbangi normalisasi konsumsi rumah tangga serta perlambatan yang terjadi pada sejumlah sektor, seperti pertambangan, konstruksi dan perdagangan.
Perkembangan ini melanjutkan kinerja positif ekonomi Sultra pada Triwulan II 2026 yang tumbuh 6,19 persen secara tahunan (yoy). Pertumbuhan tersebut tercatat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,29 persen.
“Kinerja ekonomi Sulawesi Tenggara pada Triwulan III 2026 diprakirakan terus menguat, terutama ditopang oleh sektor pertanian seiring dengan perbaikan produksi padi serta meningkatnya Nilai Tukar Petani.”
Selain pertanian, perkembangan kegiatan usaha juga menunjukkan perbaikan pada sektor pertambangan, industri pengolahan, konstruksi dan perdagangan.
Pada sektor pertambangan dan industri pengolahan, pertumbuhan didorong penerbitan serta revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) oleh Kementerian ESDM. Sementara sektor konstruksi mulai bergerak seiring persiapan proyek strategis dan kawasan industri di Kolaka.
Aktivitas tersebut turut memberikan dampak terhadap perdagangan barang pendukung.
Inflasi Sultra Tetap Terkendali
Di sisi lain, kondisi inflasi Sulawesi Tenggara juga masih berada dalam kendali. Pada Agustus 2026, Sultra mengalami deflasi sebesar 0,31 persen secara bulanan (mtm).
Deflasi tersebut dipengaruhi normalisasi harga pangan setelah masa panen serta terkendalinya harga energi dan transportasi.
Secara tahunan, inflasi Sultra tercatat 3,19 persen, masih berada dalam rentang sasaran inflasi 2,5±1 persen dan lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,35 persen.
Beberapa komoditas yang memberikan andil terhadap deflasi antara lain tomat, ikan layang, kangkung dan bahan bakar rumah tangga.
“Capaian pengendalian inflasi sejalan dengan komitmen dan sinergi yang terus dilakukan pemerintah daerah, Bank Indonesia, serta instansi terkait dalam menjaga stabilitas harga, khususnya komoditas pangan.”
Penguatan pengendalian inflasi tersebut juga tercermin dari capaian sejumlah Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sultra pada Rakornas Tim Pengendalian Inflasi 24 September 2026.
TPID Kabupaten Kolaka Timur meraih Juara I TPID Berprestasi tingkat kabupaten/kota se-Sulawesi. TPID Kabupaten Bombana meraih Juara II TPID Berprestasi, sementara TPID Kota Baubau meraih Juara II TPID Berkinerja Terbaik tingkat kabupaten/kota se-Sulawesi.
TPID Provinsi Sulawesi Tenggara juga meraih Juara III TPID Berkinerja Terbaik tingkat provinsi se-Sulawesi.
QRIS Terus Tumbuh
Sementara itu, perkembangan transaksi digital di Sulawesi Tenggara menunjukkan pertumbuhan yang cukup signifikan.
Hingga Agustus 2026, jumlah pengguna QRIS di Sultra mencapai 373.622 pengguna, atau tumbuh 29,59 persen yoy dibandingkan Agustus 2025.
Dari sisi merchant, jumlahnya mencapai 286.786 merchant, tumbuh 32,02 persen yoy dan telah tersebar di seluruh wilayah Sulawesi Tenggara.
Nilai transaksi QRIS pada Agustus 2026 tercatat mencapai Rp617,12 miliar, dengan volume transaksi sebanyak 6,48 juta transaksi.
“Perkembangan transaksi non tunai turut didukung oleh tren akseptansi QRIS sebagai game changer pembayaran ritel masyarakat. Jumlah pengguna dan merchant terus meningkat seiring semakin luasnya penerimaan QRIS di Sulawesi Tenggara.”
BI Sultra juga terus memperkuat sinergi bersama pemerintah daerah, TP2DD, perbankan, regulator, pelaku usaha dan komunitas strategis untuk memperluas digitalisasi pembayaran.
Sejumlah program yang telah dijalankan antara lain Pekan QRIS Nasional dan QRIS Jelajah Kuliner Sulawesi Tenggara.
FORKESTRA 2026 Jaring Ratusan Gagasans
Selain perkembangan ekonomi dan digitalisasi, BI Sultra juga kembali menggelar Forum Ekonomi Sulawesi Tenggara (FORKESTRA) 2026 sebagai ruang untuk mendiseminasikan hasil riset, membahas isu strategis dan menghimpun rekomendasi kebijakan.
FORKESTRA tahun ini mengusung tema “Mewujudkan Ekosistem Ekonomi Sulawesi Tenggara yang Inklusif, Mandiri, dan Berdaya Saing Global”.
Lima subtema yang menjadi fokus yakni hilirisasi dan ketahanan pangan, konektivitas wilayah, inovasi dan tata kelola, ekonomi inklusif, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Antusiasme peserta juga meningkat. FORKESTRA 2026 mencatat 964 pendaftar dan 405 opini. Jumlah opini tersebut meningkat 33,2 persen dibandingkan 2025 yang mencapai 304 opini.
“Opini dan gagasan yang dihasilkan diharapkan dapat memberikan dampak nyata bagi perekonomian Sulawesi Tenggara, antara lain melalui rekomendasi kebijakan bagi pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota serta mendorong kolaborasi riset dan inovasi.”
Puncak FORKESTRA 2026 dijadwalkan berlangsung pada 5 Oktober 2026 melalui seminar nasional dan pengumuman pemenang lomba opini.
Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya BI Sultra memperkuat kolaborasi dan mendorong lahirnya gagasan yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi daerah secara inklusif dan berkelanjutan.










