Kabut Asap Batasi Pemandangan di Kota Kendari

KENDARI – Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di Sulawesi Tenggara mulai dirasakan warga, meski sejauh ini belum mengganggu aktivitas berkendara di Kota Kendari.
Kondisi tersebut membuat jarak pandang masyarakat terhadap cakrawala dan pemandangan di kejauhan menjadi terbatas. Warga mengaku, pemandangan yang biasanya dapat terlihat dari jarak lebih dari lima kilometer kini tampak tertutup kabut.
Salah seorang warga Kota Kendari, Teguh Arya Sujana, mengatakan kondisi asap tidak terlalu mengganggu saat dirinya berkendara. Namun, kabut membuat pemandangan di kejauhan tidak lagi terlihat jelas.
“Kalau untuk berkendara sejauh ini tidak terlalu mengganggu. Tapi memang kita jadi tidak bisa menikmati pemandangan yang jauh, apalagi kualitas udara juga terasa menurun karena kabut asap ini,” kata Teguh. Kamis (8/10/2026).
Ia berharap kondisi tersebut segera berakhir sehingga jarak pandang dan pemandangan Kota Kendari dapat kembali terlihat seperti biasa.
“Semoga kabut asap ini segera hilang, supaya pemandangan dari jarak jauh bisa terlihat lagi dan udara juga kembali lebih baik,” ujarnya.
Keluhan serupa juga disampaikan warga lainnya, Narendra. Menurutnya, meski aktivitas sehari-hari masih dapat dilakukan, keberadaan kabut asap membuat suasana dan pemandangan di sekitar kota terlihat berbeda.
Sementara itu, Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Maritim Kendari, Faizal Habibie, menjelaskan bahwa hingga 8 Oktober 2026, sebaran asap masih terpantau di wilayah Kota Kendari dan sekitarnya.
Pada dini hari hingga pagi hari, keberadaan asap dapat menyebabkan jarak pandang berkurang hingga kurang dari lima kilometer.
“Per 8 Oktober 2026, sebaran asap terpantau di wilayah Kota Kendari dan sekitarnya. Pada dini hari dan pagi hari, kabut asap dapat mengurangi jarak pandang hingga kurang dari lima kilometer,” jelas Faizal.
Berdasarkan pemantauan satelit Himawari, sebaran asap juga terdeteksi di sejumlah wilayah Sulawesi Tenggara, di antaranya Baubau, Buton, Buton Tengah, Buton Selatan, Buton Utara, Wakatobi, Muna, Muna Barat dan wilayah sekitarnya.
Faizal menyebut, asap yang menyelimuti Sulawesi Tenggara tidak seluruhnya berasal dari kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sultra. Sebagian sebaran asap juga terbawa dari wilayah lain, seperti Papua Selatan, Maluku, dan Kalimantan.
Untuk periode 8–9 Oktober 2026, BMKG memperkirakan potensi asap dengan kategori sedang masih dapat terjadi di sejumlah wilayah Sulawesi Tenggara.
Wilayah tersebut meliputi Kota Kendari, Konawe Kepulauan, Konawe, Konawe Selatan, Konawe Utara, Bombana, Kolaka, Kolaka Timur, Kolaka Utara, Muna, Muna Barat, Baubau, Buton, Buton Utara, Buton Selatan, Buton Tengah, dan Wakatobi.
BMKG mengimbau masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan dan memperbanyak konsumsi air putih. Warga juga diminta menutup jendela apabila kondisi asap semakin pekat.
Kelompok rentan, seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan, disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Sementara bagi pengguna transportasi laut maupun udara, masyarakat diminta mewaspadai kemungkinan penurunan jarak pandang secara signifikan.
BMKG juga meminta masyarakat terus memperbarui informasi cuaca dan kondisi sebaran asap melalui BMKG serta instansi terkait sebagai langkah mitigasi terhadap dampak kabut asap dan potensi kebakaran hutan dan lahan.










