Polda Sultra Siapkan 631 Personel Hadapi Ancaman Karhutla

Published by
Agustus 11, 2026 21:53

KENDARI – Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara menggelar apel gelar pasukan dan peralatan sebagai langkah kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sulawesi Tenggara.

Apel yang berlangsung di Lapangan Apel Presisi Polda Sultra, Selasa (11/8/2026), melibatkan 631 personel gabungan bersama sejumlah stakeholder terkait.

Diantaranya, Dinas Kehutanan, BPBD Sultra, Basarnas, Dinas Pemadam Kebakaran, BMKG Sultra, Manggala Agni serta sejumlah unsur lainnya.

Kapolda Sultra Irjen Pol. Dr. Himawan Bayu Aji melakukan pengecekan langsung terhadap kesiapan personel, kendaraan, peralatan, sarana evakuasi serta perlengkapan pendukung yang akan digunakan dalam menghadapi potensi karhutla.

Kapolda mengatakan apel gelar pasukan menjadi bagian penting untuk memastikan seluruh unsur memiliki kesiapan yang sama, baik dari sisi personel maupun sarana dan prasarana, sekaligus memperkuat koordinasi lintas sektor.

Menurutnya, kondisi cuaca perlu menjadi perhatian serius. Musim kemarau yang diprediksi berlangsung cukup panjang mulai Agustus 2026 berpotensi meningkatkan kekeringan sehingga lahan dan vegetasi lebih mudah terbakar.

Selain faktor cuaca, aktivitas manusia juga menjadi salah satu hal yang perlu diwaspadai karena berpotensi menjadi pemicu terjadinya kebakaran.

Polda Sultra mencatat terdapat tujuh titik rawan karhutla yang tersebar di empat kabupaten. Rinciannya, dua titik berada di Kabupaten Bombana, satu titik di Kolaka Utara, satu titik di Konawe Utara, dan tiga titik di Konawe Selatan.

Sementara itu, sepanjang Januari hingga Agustus 2026, kejadian karhutla telah tercatat di wilayah Kota Baubau dan Kabupaten Kolaka Utara.

Data tersebut menjadi dasar bagi jajaran terkait untuk meningkatkan pemantauan di wilayah rawan sekaligus memperkuat langkah pencegahan dan penanggulangan.

“Fenomena El Nino juga harus kita waspadai. Seluruh jajaran di Sulawesi Tenggara harus mempersiapkan langkah penanggulangan karhutla secara optimal,” ujar Himawan.

Ia menegaskan, keberhasilan penanganan karhutla tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memadamkan api. Hal yang lebih penting adalah mencegah kebakaran sejak awal, melakukan deteksi dini, memberikan respons secara cepat dan tepat, serta mencegah api meluas.

Untuk itu, seluruh personel diminta aktif memetakan wilayah yang berpotensi mengalami karhutla, memberikan edukasi dan imbauan kepada masyarakat, serta memastikan kesiapan seluruh peralatan pendukung.

“Pastikan seluruh unsur siap, lakukan simulasi tanggap darurat dan latihan kesiapsiagaan, kedepankan kecepatan dalam merespons setiap kejadian serta tingkatkan koordinasi dan sinergitas dengan seluruh stakeholder,” tegasnya.

Sementara itu, Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Maritim BMKG Kendari, Faizal Habibie, mengatakan musim kemarau di Sulawesi Tenggara diprediksi berlangsung cukup panjang hingga November 2026.

Menurutnya, periode Agustus hingga September diperkirakan menjadi puncak musim kemarau sehingga diperlukan langkah antisipasi lebih awal, terutama di wilayah yang memiliki potensi kekeringan dan karhutla.

Dengan kesiapan personel dan peralatan serta penguatan koordinasi lintas sektor, Polda Sultra berharap potensi karhutla dapat dicegah dan ditangani secara cepat, terpadu, dan efektif.

Upaya tersebut diharapkan mampu melindungi masyarakat, lingkungan, serta kawasan hutan dari dampak kebakaran selama periode musim kemarau.