SMAN 2 Kendari Terapkan Loker HP, Wujudkan Kelas Bebas Gawai

Published by
Agustus 13, 2026 13:03

KENDARI – SMAN 2 Kendari menerapkan inovasi loker khusus penyimpanan telepon genggam bagi siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Kebijakan ini menjadi bagian dari implementasi program “Kelas Bebas Gawai/Ponsel” untuk menciptakan suasana belajar yang lebih aman, nyaman, tertib, dan kondusif.

Loker HP tersebut diresmikan langsung oleh Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulawesi Tenggara, Prof. Aris Badara, Rabu (12/8/2026).

Program ini merupakan tindak lanjut dari surat edaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulawesi Tenggara yang mendorong terciptanya lingkungan pembelajaran yang lebih kondusif.

Loker dipasang di bagian depan setiap kelas dan dilengkapi dengan kunci khusus. Masing-masing loker memiliki kapasitas sekitar 40 unit telepon genggam, menyesuaikan jumlah siswa dalam setiap kelas.

Sebelum pembelajaran dimulai, seluruh siswa diwajibkan menyimpan telepon genggam mereka ke dalam loker. Kunci kemudian dipegang oleh guru yang mengajar dan diserahkan secara bergantian kepada guru berikutnya.

Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sultra, Prof. Aris Badara, mengapresiasi langkah SMAN 2 Kendari tersebut. Menurutnya, pengendalian penggunaan telepon genggam selama pembelajaran penting untuk menjaga fokus siswa.

“Kita ingin menciptakan suasana belajar yang lebih kondusif. Penggunaan telepon genggam harus diarahkan agar benar-benar memberikan manfaat dalam proses pendidikan dan tidak menjadi gangguan bagi siswa,” ujar Aris Badara.

Ia menambahkan, program kelas bebas gawai bukan berarti melarang penggunaan teknologi secara keseluruhan. Telepon genggam tetap dapat digunakan apabila dibutuhkan untuk menunjang materi pembelajaran.

“Ketika dalam proses pembelajaran membutuhkan perangkat digital, tentu tetap bisa digunakan. Yang kita atur adalah penggunaannya agar lebih tertib dan sesuai kebutuhan,” katanya.

Sementara itu, Kepala SMAN 2 Kendari, Nur Aida, mengatakan keberadaan loker HP mendapat respons positif dari warga sekolah. Kebijakan tersebut dinilai membantu siswa lebih fokus mengikuti pelajaran.

“Loker HP ini kami hadirkan untuk membantu menciptakan suasana belajar yang lebih tertib dan kondusif. Sebelum pembelajaran dimulai, siswa menyimpan telepon genggamnya sehingga mereka bisa lebih fokus mengikuti pelajaran,” kata Nur Aida.

Meski demikian, siswa tetap dapat menggunakan telepon genggam apabila guru membutuhkan perangkat tersebut sebagai bagian dari kegiatan belajar mengajar.

“HP tetap bisa digunakan ketika memang dibutuhkan dalam pembelajaran. Jadi, penggunaannya bukan dilarang, tetapi diarahkan untuk mendukung kegiatan belajar,” jelasnya.

Selain meningkatkan konsentrasi siswa, program ini juga menjadi bagian dari upaya sekolah mengontrol penggunaan gadget dan media sosial pada anak usia sekolah, khususnya siswa yang masih berusia di bawah 17 tahun.

Melalui program Kelas Bebas Gawai/Ponsel, SMAN 2 Kendari berharap siswa dapat membangun kebiasaan disiplin dalam menggunakan teknologi sekaligus memanfaatkan perangkat digital secara positif untuk mendukung proses pendidikan.