Program Minceu Anti-Mearo (Mini Medical Check-Up and Education Metabolic Syndrome) Sebagi Upaya Promotif dan Preventif Sindrom Metabolik Pada Remaja Desa Awila, Kec. Molawe, Kab. Konawe Utara

KONAWE UTARA – Poltekkes Kemenkes Kendari melalui dosen Jurusan Teknologi Laboratorium Medis diantaranya Tuty Yuniarty, S.Si., M.Kes, Dr. Trees, STP, M.Kes, Aswiro Hasan, S.Pd., M.Hum, Desty Triyaswati, M.Sc, Ahmat Rediansya Putra, S.Tr.A.K.,M.biomed dan Aulia Rachma, S.Pd., M.Biomed melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di SMAN 1 Lasolo Desa Awila, Kecamatan Molawe, Kabupaten Konawe Utara, Sabtu (22/8/2026).
Kegiatan bertajuk Program Mini Medical Check-Up and Education Metabolic Syndrome (MINCEU Anti-Mearo) ini menyasar para remaja dalam upaya mengedukasi sekaligus skrining dini untuk mencegah risiko sindrom metabolik pada usia remaja.
Program tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Poltekkes Kemenkes Kendari, Pemerintah Desa Awila, dan SMAN 1 Lasolo.
Kegiatan ini juga melibatkan beberapa mahasiswa Poltekkes Kemenkes Kendari jurusan Jurusan Teknologi Laboratorium Medis diantaranya Joshua Alexander, Cynta Nur Ananda dan Muh. Fattah Nur Arofat.
Dalam kegiatan tersebut, Tim dosen melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap 50 remaja yang menjadi sasaran program. Pemeriksaan diawali dengan pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar perut dan tekanan darah, kemudian dilanjutkan dengan pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan sejumlah parameter kesehatan.
Ketua Tim Pelaksana Pengabdian kepada Masyarakat Poltekkes Kemenkes Kendari Jurusan Teknologi Laboratorium Medis, Tuty Yuniarty, S.Si., M.Kes, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
Menurutnya, Desa Awila dipilih karena sebelumnya tim telah melaksanakan kegiatan pemeriksaan kesehatan terhadap masyarakat dewasa di wilayah tersebut. Dari pemeriksaan sebelumnya, ditemukan sejumlah warga memiliki hasil pemeriksaan yang cukup tinggi, termasuk asam urat, kolesterol dan gula darah.
“Karena sebelumnya kami telah melakukan pengabdian kepada masyarakat di Desa Awila dengan sasaran orang tua dan hasilnya cukup tinggi pada beberapa parameter pemeriksaan, maka tahun ini kami melanjutkan kegiatan dengan sasaran remaja,” ujarnya.
Tuty menjelaskan, sasaran remaja dipilih karena adanya fenomena perubahan pola makan dan gaya hidup. Tidak sedikit remaja yang terbiasa mengonsumsi makanan siap saji, minuman berwarna, serta makanan dengan kandungan gula, garam dan lemak yang tinggi.
Kondisi tersebut, kata dia, dikhawatirkan dapat memengaruhi kesehatan dan meningkatkan risiko terjadinya gangguan metabolik sejak usia muda.
“Melalui kegiatan ini kami melakukan skrining sedini mungkin. Yang diperiksa mulai dari berat badan, tinggi badan, lingkar perut, tekanan darah hingga pemeriksaan darah seperti kolesterol, asam urat dan parameter lainnya,” jelasnya.
Ia menambahkan, sindrom metabolik perlu mendapat perhatian karena dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular, seperti diabetes melitus tipe 2, penyakit jantung hingga stroke, bahkan pada usia muda.
Dari hasil pemeriksaan sementara, tim menemukan sejumlah peserta memiliki faktor risiko yang perlu mendapat perhatian. Beberapa hasil pemeriksaan menunjukkan adanya peningkatan pada kadar asam urat dan kolesterol, serta kondisi berat badan yang berlebih pada sebagian peserta.
Namun demikian, Tuty menegaskan hasil tersebut masih berupa temuan awal dan belum menjadi kesimpulan akhir. Tim masih akan melakukan pengolahan serta evaluasi terhadap seluruh hasil pemeriksaan.
Selain pemeriksaan kesehatan, para siswa juga mendapatkan edukasi mengenai sindrom metabolik, faktor risiko dan langkah-langkah pencegahannya.
Menurut Tuty, pola makan tinggi gula, garam dan lemak, kurangnya aktivitas fisik, kebiasaan jarang berolahraga, kelebihan berat badan, kurang tidur hingga faktor keturunan dapat menjadi pemicu meningkatnya risiko sindrom metabolik.
“Remaja sekarang banyak yang kurang bergerak atau mager. Aktivitas fisiknya terbatas, sementara konsumsi makanan tinggi gula, garam dan lemak cukup tinggi. Ini yang perlu kita cegah sejak dini,” katanya.
Melalui program tersebut, pihaknya berharap para remaja dapat lebih memahami pentingnya menjaga pola makan dan menerapkan gaya hidup sehat. Hasil pemeriksaan juga diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi setiap peserta untuk lebih memperhatikan kondisi kesehatannya.
Sementara itu, Wakil Kepala SMAN 1 Lasolo, Muh. Fitrah Ramadhan, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan pemeriksaan kesehatan dan edukasi bagi para siswa.
Menurutnya, kegiatan tersebut sangat bermanfaat karena dapat membantu mendeteksi kondisi kesehatan siswa sejak dini melalui pemeriksaan seperti kolesterol, gula darah dan urin.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat karena kita bisa melihat dan mendeteksi kesehatan anak-anak SMA, sehingga ke depan dapat dilakukan langkah-langkah pencegahan. Kami berharap kapasitas peserta bisa ditambah karena saat ini baru perwakilan dari setiap kelas,” ujarnya.
Dua siswi SMAN 1 Lasolo, Kori Sandi Avrifa dan Puput Melati, juga mengaku mendapatkan banyak pengetahuan melalui kegiatan tersebut. Mereka menilai edukasi yang diberikan dapat menjadi pengingat bagi para remaja untuk membiasakan pola hidup sehat.
Menurut keduanya, menjaga kesehatan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti mengonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, minum air yang cukup serta menjaga waktu istirahat dan tidur.
Melalui kegiatan MINCEU Anti-Mearo, Poltekkes Kemenkes Kendari berharap kesadaran terhadap bahaya sindrom metabolik tidak hanya dimiliki oleh orang dewasa, tetapi juga mulai ditanamkan sejak usia remaja sebagai langkah pencegahan menuju generasi yang lebih sehat.










