Kabut Asap Ganggu Nelayan Sultra, Hasil Tangkapan dan Pendapatan Menurun

Published by
Oktober 21, 2026 15:29

KENDARI – Fenomena kabut asap yang melanda wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra) tidak hanya mengganggu jarak pandang di darat, tetapi juga berdampak pada aktivitas nelayan yang mencari ikan di laut.

Akbar, nelayan tradisional asal Desa Wawatu, Kecamatan Moramo Utara, Kabupaten Konawe Selatan, mengaku kabut asap menyulitkan dirinya menentukan titik lokasi untuk mencari ikan. Kondisi tersebut membuat aktivitas melaut menjadi kurang optimal.

Akibatnya, hasil tangkapan ikan yang diperoleh berkurang sehingga berdampak pada penurunan pendapatan. Padahal, mencari ikan di laut merupakan sumber penghidupan utama bagi dirinya.

“Kabut asap ini mengganggu pandangan kami saat melaut, terutama ketika menentukan titik untuk mencari ikan. Dampaknya, hasil tangkapan berkurang dan pendapatan kami juga menurun,” ujar Akbar.

Ia berharap fenomena kabut asap segera berakhir agar jarak pandang di laut kembali normal dan nelayan dapat beraktivitas seperti sediakala tanpa terkendala kondisi cuaca.

Sementara itu, Stasiun Meteorologi Maritim Kendari mengingatkan bahwa kabut asap dapat mengganggu keselamatan aktivitas pelayaran, termasuk bagi nelayan tradisional yang beraktivitas di laut.

Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Maritim Kendari, Faizal Habibie, menjelaskan bahwa kabut asap berpotensi mengurangi jarak pandang di perairan. Kondisi ini perlu diwaspadai, terutama pada malam hingga pagi hari ketika kabut asap cenderung lebih pekat.

“Nelayan disarankan menggunakan lampu darurat atau emergency light pada kapal, meskipun pada siang hari. Ini penting agar keberadaan kapal dapat diketahui oleh kapal lainnya saat jarak pandang terbatas,” jelas Faizal.

Penggunaan lampu darurat diharapkan membantu meningkatkan visibilitas kapal sehingga risiko kecelakaan di laut akibat terbatasnya jarak pandang dapat diminimalkan.

Nelayan juga diimbau tetap waspada dan memperhatikan kondisi cuaca serta jarak pandang sebelum memutuskan untuk melaut, demi menjaga keselamatan selama beraktivitas di perairan Sulawesi Tenggara.