Sultra Ekspor 1.027 Ton Tepung Tapioka dan Minyak Kelapa ke China-Malaysia Senilai Rp10,9 Miliar

Published by
September 10, 2026 21:15

KONAWE SELATAN – Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) kembali memperluas pasar komoditas pertanian ke mancanegara. Sebanyak 1.027 ton tepung tapioka dan minyak kelapa diekspor ke China dan Malaysia dengan total nilai mencapai Rp10,9 miliar.

Pelepasan ekspor perdana komoditas unggulan Sultra tersebut berlangsung di PT Agri Cassava Makmur, Desa Arongo, Kabupaten Konawe Selatan, Kamis (10/9/2026).

Dari total ekspor tersebut, sebanyak 900 ton tepung tapioka senilai Rp7,3 miliar dikirim ke China. Sementara 127 ton minyak kelapa senilai Rp3,6 miliar diekspor ke Malaysia.

Kepala Badan Karantina Indonesia, Abdul Kadir Karding, mengatakan Sultra memiliki potensi besar untuk mengembangkan komoditas ubi kayu sebagai salah satu produk unggulan yang berorientasi ekspor.

Berdasarkan data 2026, luas lahan ubi kayu di Sultra mencapai sekitar 2.080 hektare, dengan sentra terbesar berada di Konawe Selatan seluas 1.235 hektare.

Namun, pengembangan ekspor tepung tapioka masih menghadapi kendala ketersediaan bahan baku. Saat ini kapasitas pengiriman baru sekitar 300 ton per bulan, sedangkan permintaan pasar China mencapai 600 hingga 1.300 ton per bulan.

Abdul menilai tingginya permintaan tersebut menjadi peluang bagi Sultra untuk meningkatkan produksi sekaligus memperluas pengembangan tanaman ubi kayu.

“Permintaan dari China cukup besar. Ini menjadi peluang bagi Sultra untuk meningkatkan produksi dan mengembangkan komoditas ubi kayu agar mampu memenuhi kebutuhan pasar ekspor.”

Selain tepung tapioka, minyak kelapa juga dinilai memiliki peluang pasar yang cukup besar, khususnya Malaysia. Meski demikian, produk yang dikirim ke pasar internasional harus memenuhi standar kualitas yang ketat.

Persyaratan tersebut antara lain mencakup kadar asam lemak bebas, kadar air, warna, hingga komposisi asam lemak.

Sementara itu, Gubernur Sultra Andi Sumangerukka mengatakan ekspor perdana tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah mendukung program Asta Cita Presiden, khususnya melalui hilirisasi dan industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas daerah.

Pemprov Sultra, kata dia, akan memberikan stimulus untuk mendorong pengembangan komoditas pertanian yang memiliki peluang ekspor.

“Kita akan memberikan stimulus untuk mendorong komoditas-komoditas pertanian yang memiliki peluang ekspor, sehingga bisa meningkatkan produksi sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat.”

Pemerintah daerah juga akan berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk menghitung kebutuhan lahan serta nilai ekonomi pengembangan ubi kayu.

Dalam pengembangannya, satu hektare lahan ubi kayu disebut dapat menghasilkan sekitar 35 ton. Karena itu, kebutuhan lahan nantinya akan disesuaikan dengan target produksi dan permintaan pasar.

Manager PT Agri Cassava Makmur, Nurasifa, turut menyampaikan kesiapan perusahaan dalam mendukung pengembangan komoditas ubi kayu dan perluasan pasar ekspor.

Ekspor perdana ini diharapkan menjadi momentum untuk meningkatkan produksi, memperkuat hilirisasi, serta membuka peluang lebih luas bagi komoditas pertanian Sultra untuk menembus pasar internasional.