Asap Selimuti Sultra, BMKG Imbau Warga Waspada & Kurangi Aktivitas di Luar

Published by
Oktober 3, 2026 15:13

KENDARI – Fenomena asap mulai menyelimuti Kota Kendari dan sejumlah wilayah di Sulawesi Tenggara. Berdasarkan hasil pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), asap tipis telah terdeteksi sejak 28 September 2026.

Namun, kondisi tersebut semakin terlihat pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Asap terpantau lebih tebal dengan kategori sedang hingga menyebabkan jarak pandang di sejumlah wilayah berkurang hingga di bawah 5 kilometer.

Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Maritim Kendari, Faizal Habibie, mengatakan hasil pemantauan BMKG menunjukkan fenomena asap tersebut tidak berasal dari wilayah Sulawesi Tenggara.

“Untuk saat ini kita pantau, penyebab dari asap yang terjadi di wilayah Sulawesi Tenggara, khususnya Sulawesi Tenggara bagian timur, memang berasal dari luar Sulawesi Tenggara,” kata Faizal Habibie.

Menurutnya, wilayah yang terdampak antara lain Konawe, Konawe Selatan, Kendari, Konawe Kepulauan, Konawe Utara, Buton Utara dan wilayah sekitarnya.

Berdasarkan pantauan satelit Himawari, sumber asap teridentifikasi berasal dari wilayah Papua dan Maluku. Asap tersebut kemudian terbawa oleh pergerakan angin hingga mencapai sejumlah wilayah di Sulawesi Tenggara.

“Pantauan satelit Himawari menunjukkan bahwa pergerakan asap, sumber asap berasal dari Papua dan Maluku, yang tertiup angin sampai ke wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara,” jelasnya.

BMKG mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama kondisi asap masih terjadi. Warga yang beraktivitas di luar ruangan disarankan menggunakan masker dan memperbanyak konsumsi air putih.

Masyarakat juga diminta menutup jendela rumah apabila kondisi asap mulai terasa pekat. Sementara kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan, dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Selain kesehatan masyarakat, kondisi asap juga perlu diwaspadai oleh pengguna jalan, transportasi laut maupun penerbangan, terutama apabila terjadi penurunan jarak pandang secara signifikan.

“Untuk pengguna jalan, transportasi laut dan penerbangan agar selalu waspada jika terjadi penurunan jarak pandang secara signifikan,” ujar Faizal.

BMKG juga meminta masyarakat terus memperbarui informasi cuaca dan perkembangan kondisi asap melalui kanal resmi BMKG maupun instansi terkait.

Langkah tersebut dinilai penting untuk mendukung upaya mitigasi bencana hidrometeorologi, khususnya yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sehingga masyarakat dapat mengambil langkah antisipasi sesuai perkembangan kondisi di lapangan.